Brand Archetype itu konsep yang bikin sebuah brand punya karakter bahkan “jiwa”. Tujuannya biar brand bisa punya hubungan emosional sama orang – orang. Jadi, brand itu bukan cuma logo atau produk, tapi punya karakter yang bisa bikin orang suka, jatuh cinta, intinya “cocok”.

Karakternya pun bukan sekedar karakter, tapi karakter dengan kepribadian yang secara teori “disukai” sama bermacam macam orang.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Carl Jung, seorang psikolog yang bilang bahwa manusia punya pola karakter universal. Nah, dalam dunia branding, pola ini diterjemahkan jadi 12 archetype utama.

Sebetulnya dari Carl Jung nggak dikasih tau warna yang sesuai dengan brand archetype tertentu, tapi saya coba masukin rekomendasi warnanya sesuai dengan teori warna dari:

  • Eva Heller – Psychology of Color
  • Faber Birren – Color Psychology and Color Therapy
  • Satyendra Singh – The Psychology of Color in Marketing and Branding (2006)

Yang ngasih tau kalau warna itu terasosiasi dengan emosi dan persepsi.

Jadi brand archetype ini bisa jadi dasar kamu untuk:

  • Nentuin nama
  • Nentuin warna
  • Nentuin logo
  • Nentuin design
  • Nentuin strategi komunikasi

Jadi nentuin semua itu nggak sembarangan dan nggak ngasal, ada dasarnya

Nentuin nama, warna, logo, design dan gaya komunikasi itu masuk ke kategori branding dan dengan adanya brand archetype, brand kamu jadi berbeda. Meskipun produkmu sama dengan kompetitor, tapi “karakter”nya akan berbeda.

Di dalam branding, nggak ada istilah lebih bagus mana, yang ada adalah lebih “cocok” mana, karena orang itu beli dengan alasan “cocok”, entah apa yang “cocok” itu variabelnya banyak banget.

Buat kamu yang lagi berproses buat bikin bisnis, di website ini saya share teori teori bisnis yang saya pelajari di S2 dan saya coba sajikan dengan cara yang sederhana supaya bisa dipraktikan di bisnis kamu.

Semoga kita diberi paham, dan diberi kemudahan dalam mencari ilmu.

Salam,

Mohammad Rashid Damanhuri

Categories:

Tinggalkan komentar