Siapa yang Bikin Konsep Ini?
Logos, Pathos, dan Ethos pertama kali dikenalkan oleh Aristoteles, filsuf Yunani kuno yang hidup sekitar 300 tahun sebelum Masehi. Dia nulis buku judulnya Rhetoric, isinya ngebahas gimana cara meyakinkan orang lewat omongan atau tulisan. Intinya, ini konsep dasar buat bikin orang percaya dan tergerak.
Awalnya Dibuat Untuk Apa?
Awalnya konsep ini dipakai dalam retorika, seni ngomong supaya orang nurut atau setuju. Di zaman Yunani kuno, orang pada doyan debat di forum publik. Jadi siapa yang jago ngomong, dia bisa berpengaruh. Aristoteles menganalisis kenapa ada orang yang omongannya didengar dan dipercaya. Jawabannya: Ethos, Pathos, Logos.
- Ethos: Kredibilitas si pembicara
- Pathos: Emosi yang dirasakan pendengar
- Logos: Logika, data, atau argumen masuk akal
Sekarang Dipakai Untuk Apa?
Sekarang, konsep ini dipakai di mana-mana: mulai dari copywriting, presentasi, jualan, iklan, sampai dakwah dan politik. Tujuannya sama: bikin pesan kamu dipercaya, dirasa, dan dimengerti.
Kalau Kamu Jualan, Ini Cara Pakai Logos – Pathos – Ethos
1. ETHOS: Tunjukin Kamu Bisa Dipercaya
Kalimat: [Lama pengalaman] + [Aktivitas spesifik]
“Sudah 12 tahun kami bikin mie sendiri setiap pagi, tanpa bahan pengawet.”
Keliatan: pengalaman + konsistensi
Kalimat: [Jumlah pencapaian] + [Periode waktu]
“80.000 porsi terjual sejak 2020, semuanya dibuat fresh tanpa stok lama.”
Keliatan: sudah dipercaya banyak orang
Kalimat: [Asal-usul resep/produk] + [Nilai tradisi/kualitas]
“Resep mie ayam ini diturunkan dari almarhum kakek saya yang jualan sejak tahun 1975 di pasar tradisional.”
Keliatan: ada warisan, nilai, dan pengalaman panjang
Kalimat: [Proses kerja atau standar] + [Fokus pada kualitas/konsistensi]
“Kaldu kami direbus 6 jam setiap hari dari ayam segar, bukan pakai bumbu instan.”
Keliatan: ada usaha, standar, dan kontrol kualitas
Kalimat: [Profil tim atau usaha] + [Nilai integritas atau komitmen]
“Tim kami terdiri dari 4 orang yang sudah kerja bareng sejak 2015, dan kami komitmen nggak pakai MSG atau bahan sembarangan.”
Keliatan: ini bukan jualan iseng, tapi usaha serius
2. PATHOS: Sentuh Emosi Pembeli
Kalimat: [Pertanyaan emosional] + [Situasi nyata]
“Pernah ngerasa capek banget, dan pengen makan yang bisa bikin tenang walau cuma sebentar?”
Mainin emosi kelelahan dan butuh kenyamanan
Kalimat: [Imajinasi kondisi ideal] + [Detail sensorik]
“Bayangin mie ayam panas, asapnya naik pelan, sambal meleleh di lidah, kuahnya masuk tenggorokan—pas banget buat nemenin sore yang gerimis.”
Mainin emosi rileks, puas, dan kenyamanan fisik
Kalimat: [Kenangan manis] + [Pemicu nostalgia]
“Rasanya kayak mie ayam buatan ibu di kampung—kuahnya gurih, mie-nya kenyal, dan tiap suapan bikin kamu pengen pulang.”
Mainin emosi rindu, rasa aman, kehangatan
Kalimat: [Masalah] + [Solusi]
“Bosen makan yang itu-itu aja tiap hari? Coba semangkuk mie ayam kami—nggak cuma kenyangin perut, tapi juga balikin mood.”
Mainin kejenuhan, lalu kasih harapan
Kalimat: [Kondisi emosional umum] + [Respons alami pembaca]
“Kadang, yang kamu butuhin bukan makanan mahal… tapi rasa hangat yang ngingetin kamu kalau semua bakal baik-baik aja.”
Mainin kesederhanaan dan perasaan aman
3. LOGOS: Kasih Alasan yang Masuk Akal
Kalimat 1: [Data] + [Alasan] + [Hasil]
“Menurut studi Jurnal Gizi Indonesia (2022), konsumsi MSG berlebih bisa memicu sakit kepala dan mual. Karena itu, kami pakai kaldu alami tanpa MSG supaya lebih aman buat kamu.”
Kalimat : [Fakta teknis] + [Penjelasan logis] + [Nilai produk]
“Kaldu tulang ayam mengandung gelatin dan mineral yang larut saat direbus lama (Harvard Health, 2019). Itulah kenapa kami rebus tulang ayam 6 jam tiap hari—biar rasa dan nutrisinya keluar sempurna.”
Kalimat: [Statistik] + [Perbandingan logis] + [Ajakan halus]
“Menurut data BPS, rata-rata orang Indonesia mengeluarkan Rp 20.000–30.000 untuk makan siang (2023). Mie ayam kami cuma Rp 15.000 lengkap dengan es teh, jadi kamu tetap bisa makan enak tanpa boros.”
Jadi Ilmu Ini Bukan Cuma Buat Orator, Tapi Juga Buat Pedagang
Kamu jualan mie ayam? Atau jualan produk digital? Atau bahkan jual ke investor? Tetap sama prinsip dasarnya:
Bikin orang percaya (Ethos), bikin mereka ngerasa (Pathos), dan kasih mereka alasan (Logos).
Semoga ilmu ini bermanfaat, ini adalah sebagian dari yang saya share di panduan + 23 langkah bangun brand lokal. Kalau kamu tertarik buat beli panduan dan template-nya, bisa akses disini www.rashid.id
Salam,
Mohammad Rashid Damanhuri

Tinggalkan komentar